looking for?!!

from Buninagara with LOVE

.....
.....
.....

U
ntuk kesekian kalinya kubuka mata setelah berulang kali sebelumnya aku buka-tutup mata lagi….lagi….dan lagi.
        “Huft…” desahku pelan
Rupanya bangunan itu masih berdiri kokoh tepat di depan mataku, pabrik teh Walini, bangunan itu lebih mengerika dibanding singa sang raja hutan bagiku. Dengan setia dia memelototiku lebih dari satu setengah jam.
                Perlahan kusandarkan badanku. Dan entah mengapa mulutku enggan bersua sejak tadi, namun fikirku seakan tak ingin ikut mematung, berkeliaran mengembara pada bayangan yang sejenak mampu membuatku tersenyum simpul.
                18 jam yang lalu kulajukan ‘si emprit’, motor vega-ku, yang selalu setia menemani hari-hariku akhir-akhir ini, menuju tempat kosku tersayang. Dengan terampil tanganku memasukkan baju-baju yang telah kusetrika kedalam tas monokurobo. Sedang bibirku tak mau kalah, tek henti-hentinya lagu Laskar Pelangi-nya Nidji berdendang memecah kesunyian malam itu.
        “Handuk, kaos kaki, jaket dan sepatu….oke beres” kututup notesku dengan senyum puas membayangkan senyum para mutiara bangsa dari Buninagara yang esok akan menyambutku….ah….senang.

        “Punten neng, rombongan ke Buninagara?”
Lelaki paruh baya dengan hem kotak-kotak rapi berdiri dihadapku.
        “Iya, bapak siapa ya?”
        “Abdi Ian, utusannya pak Aep”
        “Oh, ada apa ya pak?”
        “Jadi gini, truk perkebunan yang mau ke Buninagara itu sudah berangkat sejak dua jam yang lalu”
        “Hah?!!”
“Tadi saya sudah coba cari mobil lain milik perkebunan yang bisa disewa namun ternyata juga sedang dipakai, jadi kita harus ke Ciwidey untuk sewa angkot. Semoga saja ada angkot yang mau, karena dengan medan yang seperti itu banyak angkot yang tidak mau”
“Lalu kalo nggak ada yang mau gimana pak?”
“Alternatif terakhir itu ya….jalan”
“Jalan?!!” teriak kami kompak
Mataku sontak melirik tajam tumpukan barang-barang bawaan kita yang seabreg. Tas super gedhe yang penuh sesak itu saakan melambai-lambai, meledek hatiku yang mulai emosi.
“Ok aku ikut pak Ian cari angkot, kalian tunggu disini siap-siap aja” kata kang Tami tegas
“iyaaaaa” jawab kita kompak

$$$$$

        “Heiii….ayo ayo….” suara kang Tami bagai air di gurun pasir
        “Udah kaya kenek angkot aja tu orang” batinku
Singkat cerita angkot kuning itu bagaikan malaikat yang turun dari khayangan khusus buat nganterin kita ke Buninagara, hehee lebay.com. Setapak demi setapak jalan terjal dan berliku itu berhasil dilewati si yellowiw, angkot malaikat kita dan akhirnya…..Buninagara I’m comiiiiiing….
        “Yeeeeeey….angkot….angkot….angkot….” riuh sekali teriakan sekitar 20 anak itu mengiringi kedatangan kita
        “Kita kaya artis aja yak hehee” teh Nida yang dari tadi membisu akhirnya nyeletuk juga.
        “Mang, terus aja ke atas, turunin barang-barangnya di sekolah” kang Ridhi dengan tegas memberi komamdo pada mang supir sesaat setelah kita sampai depan rumah pak Aep
        “Kok ke sekolah?” teh Nida kembali bersuara
        “Kalian masuk aja, ada teh Fitri di dalam rumah pak Aep, ada yang kalian belum tahu”
Seperti domba yang digiring masuk oleh penggembalanya, kamipun masuk rumah pak Aep. Sepi dan tegang, dua kata itu cukup menggambarkan suasana saat itu.
        “Ada apa sih teh?” dengan tak sabar teh Isma bertanya
        “Selama di Buninagara kita akan tinggal di sekolah” teh Fitri menjawab dengan wajah kusut
        “Di sekolah?!” pekikku
        “Jadi gini, izin dari perkebunan terkait kegiatan dan tempat tinggal kalian itu belum turun, jadi jika dipaksa tidur di sini takutnya malah menimbulkan masalah yang berkepanjangan….bla…bla…bla…”
Entah apa saja celoteh bu Aep menjelaskan semuanya namun rasanya otakku lebih sibuk dengan kicauan hatiku sendiri.
Gila kali ya tu orang-orang perkebunan, dasar para manusia gila jabatan!

Perkebunan ini kan PTPN, milik Negara, dan kita disini buat bantu Negara di bidang pendidikan,
lalu kenapa mereka malah mempersulit?
Bagian mananya coba yang ngrugiin mereka?
Apa sih mau mereka? Uang?
huuuuuft

$$$$$

Pernah makan bareng dengan duduk melingkar dan ditengah-tengahnya ada lilin?
It’s time now! Kejadian langka ini hanya ada di Buninagara, nggak ada di tempat lain. Malam ini malam pertama kami semua menjadi penghuni sekolah. Dan sekarang saatnya breefing membahas schedule besok dan pembagian jobdesk setelah sekian menit yang lalu kami berlomba menyikat makanan yang mungkin tergolong sangat sederhana dan apa adanya. Namun jangan ditanya seberapa rakusnya kita, bagaikan lomba makan tanpa komando hehee.
        “Ok kita mulai, untuk seminggu kedepan kita akan tidur di sini, dan mulai besok kita akan mulai kegiatan kita. Sekarang akan saya umumkan untuk pembagian jobdesk masing-masing dari kita. Pertama….bla…bla…bla…”
Seminggu….hem…penjelasan teh Eva mengusikku, tiba-tiba fikirku mulai berlarian, terlintas bayangan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi selama seminggu ini. Sepersekian detik aku lirik teh Rindu,

Sepertinya dia anak orang kaya, apa mungkin bakal betah ya hidup dihutan kaya gini, nggak cuma tanpa listrik seminggu tapi juga tanpa sinyal. Mana tidurnya aja di atas bangku sekolah doank! Oh my God

        “Hei nglamun aja, denger nggak besok ngajar kelas berapa?” pertanyaan teh Vera mengakhiri tamasya imajianasiku
        “Hah?”
        “Kamu itu nglamun aja, kebagian kelas nol dan satu kamu”
        “Kelas nol dan satu???? Ya Allah….”

Ya Allah rasanya aku makin pusing aja…
ngadepin anak sekecil itu bukan hal yang mudah….
apalagi besok tema pembelajarannya ‘WHO AM I’ yaitu menumbuhkan percaya diri mereka….
menumbuhkan percaya diri anak sekecil itu….
Pake bahasa apa aku???
Pandanganku jauh menerawang menembus langit-langit atap kelas.

$$$$$


Buninagara, 18 Januari 2012
Extra day!!!
Extra lieur….extra pusing….extra capek….extra keren dan bermanfaat
Sepuluh mutiara bangsa yang imut-imut itu benar-benar membuatku pusing dan capek, but semua lunas terbayar pas liat mereka dengan berani menunjukkan potensi dan mimpi mereka, pastinya dalam bahasa dan cara mereka sendiri
Ah sepertinya benih-benih cinta mulai bertaburan di hatiku….cinta untuk mereka dan Buninagara ini….


        “Bruk…” kututup notesku
Mataku liar mengembara, patroli menyusuri tiap tapak ruangan kelas yang sementara berubah jadi ‘basecamp dadakan’ kami. Gelap. Hanya sebatang lilin yang dari tadi berdiri kokoh setia menemani kami. Sepi, rupanya semua telah meluncur bertamasya ke dalam mimpinya masing-masing.
                Tanpa sengaja kulihat tumpukan kertas yang taka sing lagi diujung bangku yang tak jauh dari tempatku duduk. Sempat kulirik jam yang telah menunjukkan pukul 22.45 sebelum aku memutuskan untuk mengambil tumpukan kertas itu. Entah mengapa aku lebih memilih melihat-lihat isi kertas itu ketimbang mengikuti jejak teman-teman untuk tidur.
        Lembar demi lembar aku bolak balik, sedang mataku dengan jeli menyusuri seluruh permukaan kertas berisikan gambaran para mutiara bangsa itu, seakan tak ingin ada seujungpun yang tak ku lihat. Bayangan keceriaan mereka pagi tadi hadir lagi, dengan semangat mereka yang notabene memiliki kecerdasan kinestetik ‘lebih’ berlarian kesana kemari hingga membuatku kualahan, terlebih saat aku bercerita tentang berbagai profesi dengan buku-buku sedangkan ada beberapa dari mereka yang malah berlari-larian mengejar bola, tendang sana tendang sini. Namun Alhamdulillah setelah kubagikan beberapa lembar kertas HVS dan spidol serta krayon mereka sangat antusias menggambar, yah setidaknya mereka bisa duduk diam hehee.
        Tanganku terhenti pada sebuah lembaran kertas, ada dua gunung dan matahari, ujung kanannya tertulis ‘SELA’
        “Teteh….teteh….kalo sela nanti pengen jadi dokternya adik bayi”
Suara itu terngiang-ngiang jelas dalam daun telingaku. Wajahnya memenuhi seluruh fikirku. Pipinya yang merah merona dan tak ketinggalan senyumnya yang khas.

Ah anak itu, dengan polosnya kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Dengan polosnya dia bilang ‘dokternya adik bayi’
Ya Allah….sungguh Kau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Doa
Kudekap erat kertas-kertas itu seiring air mata yang seakan tak kuasa untuk dibendung lagi.

$$$$$

                Langit Buninagara senja ini seakan terlalu mahal untuk disia-siakan terlewat begitu saja. Setelah selesai sholah Asyar berjamaah, kulangkahkan kaki ke halaman sekolah. Aku sengaja berbelok ke arah kanan halaman sekolah agar tak terlihat anak-anak yang sibuk bermain. Entah mengapa aku ingin menikmati senja ini sendiri.
                Kubuka notesku yang dari tadi bersembunyi dibalik kantong jaketku setelah sebelumnya ku sandarkan tubuhku pada pohon besar di samping kanan sekolah. Dengan piawai jemariku menuntun bolpoint ditangan kananku intuk menari, menggores tinta diatas notes kumalku.

Buninagara, 19 Januari 2012
Iqro bismirabbikalladii kholaq…
Tak kenal maka tak sayang
Tak sayang maka….ta’aruf
Hehee
Dan hari ini menjadi saksi bisu perkenalan mereka dengan huruf abjad….bahkan sudah mulai belajar membaca….
b-a ba b-a ba … baba
b-i bi b-i bi … bibi
keren kaaan?!
Adiknya Devye geto loh hehee

Tapi sepertinya kebahagiaan hari ini tetap bertahta kuat, tak tergoyahkan meski melihat nasi yang dari tadi pagi menangis meronta….
Hehee penasaran?!
jadi sehari ini tuh…..
       
        “Teteh Devye….ngapain atuh?”
        “Ayo main teh….”
        “Main petak umpet”
        “Nggak mau….urang mau main ayam-ayaman”
        “Main bola teeeeh…”
Ah mereka memang selalu bersemangat hingga membuatku malu, kututup notesku, dengan senyum penuh semangat aku beranjak menggandeng tangan mereka
        “Yuuk….kalo mainnya keliling dunia aja gimana?” tawarku sembari melihat mereka satu persatu
        “Mauuuuuu….”
        “Tapi gimana caranya teh? Kita naik apa? Truk perkebunan kan udah nggak kesini hari ini”
        “Gampang, kan ada ini” jawabku sambil menunjukkan buku berjudul ‘Around The World’
        “Yeeeeeeeey asyiik”

$$$$$

        “Apa iya kita bakal ber-7 dengan hanya Tami laki-lakinya?” suara teh Isma gamang seusai sholat magrib berjamaah
Sontak kulirik jam di layar HP-ku, 18.30, hanya keajaiban yang mampu membuat kita tambah personil malam ini.
        “Semua akan baik-baik saja kok” sepertinya kang Tami sedang berusaha menenangkan kami meski sudah jelas terlihat jika dia sendiri juga tak tenang.
        “Nggak usah khawatir lah, kan ada Tami si Manusia Hutan jadi aman lah kita, harimau sekalipun pasti takut liat tampangnya”
        “Hehee parah kali kau”
        “Manusia hutan? Apa bedanya tuh sama orang utan?”
        “Parah….parah….”
// Sekedar info, hari ini teh Eva dan teh Fitri lagi turun buat ngurus surat perizinan ke perkebunan, sedang kang Bowo pagi tadi dapat panggilan sidang (entah sidang TA atau apa gitu, yang pasti mah bukan sidang-sidang kaya om Nazarudin hehee). Kalau Kang Ridhy….ada perlu pentiiiiing katanya //
        “Hei liat ada yang datang….itu ada cahaya”
        “Mana? Mana cahayanya?”
        “Wah kayaknya motor”
        “4 motor menuju kesini”
        “Teh Eva, teh Fitri, kang bowo dan…..kang Dias”
        “Alhamdulillah”
(maaf jika kayanya katrok.com nggak pernah liat cahaya, tapi memang seperti itu kondisi saat itu, dan ya harap maklum memang semua volunteer katrok….kecuali aku hehee piiiis)

$$$$$

        “Air mampet, nggak ngalir” teriak teh Eva membangunkan kami di pagi buta
        “Hah yang bener?” aku yang biasa sulit bangun langsung beranjak bangun
        “Jam berapa sih sekarang?” Tanya teh nida
        “3 pagi”
    “Hem….tahajud dan subuhan-nya pake tayamum aja dah” sahut teh Isma sambil menarik bedcovernya
       “Iya….ini bonus dari Allah buat kita, nggak perlu gelap-gelapan jalan ke kamar mandi buat wudlu dengan air super dingiiiiiiiin hehee” timpalku asal ceplos
        “Bonus juga buat kita nggak cuci piring dan masak pagi-pagi….itu artinya….”
        “Kita nggak sarapan hehee” celetuk teh Rindu yang dari tadi bersembunyi di balik bedcover.
        “Kenapa nggak wudlu pake air mineral persediaan minum kita aja?”
        “Kan habis tadi malam, bahan makanan kita juga habis kan?”
        “Subhanallah lengkap kali hari ini hadiah buat kita….kado terindah untuk menyambut jumat yang dasyat” bisikku dalam hati

$$$$$

        “Brrrrrr…...” mulutku menggigil
                Hem selalu begini….meski sudah lumayan lama di BN dan ini bukan kali pertama mandi namun sensasi ‘guyuran pertama’ masih saja membawa kesan tersendiri (hehee lebay.com). Kata teh Rindu, gayung serasa monster hehee

Hih gimana kabar penduduk sini ya, pasti pada rawan penyakit rematik dah disini
Atau mungkin udah terbiasa ya….
tapi aku udah hampir 4 hari tetep aja ngrasa dingin
ehh…4 hari?
Hari ini Jumat…lho…
Jumat=ngajar terakhir?!!

Gema tawa riang adik-adik BN terngiang-ngiang berlarian dalam daun telingaku. Entah mengapa sepertinya ada rasa aneh yang tiba-tiba muncul dalam hatiku. Semua akan segera berakhir. Aku akan segera meninggalkan BN dan pulang ke Trenggalek, tanah kelahiranku. Bukannya harusnya aku senang? Atau….aku khawatir merindukan semua ini? Heeem…pasti aku akan sangat rindu.
        “Dik…buruan mandinya, udah jam 7.32” teriak teh Vera membuyarkan anganku
        “Iya mbaaaaaaaaaaa…..”

$$$$$


        “Indonesia tanah airku….
          Tanah tumpah darahku…” 

                Suara mereka kencang dan bersemangat meski tak beraturan, tapi bagiku….aku sekarang sedang berada di depan team paduan suara kepresidenan yang suaranya ciamiiik. hehee
Tema hari ini adalah ‘SAKSIKAN BAHWA AKU ANAK NEGERI’ keren kan….?

        “Indonesia kebangsaanku….
          bangsa dan tanah airku.…”

                Kupandangi wajah mereka satu per satu, ada yang menunduk, ada yang mendongak, ada yang tangannya bergerak-gerak, bahkan ada yang kakinya tak bisa diam. Ah dasar anak-anak. Namun ada kesamaan diantara mereka, semangat mereka begitu terasa membuncah dan menggelora, seakan ingin menunjukkan pada dunia bahwa inilah lagu kebangsaan bangsanya dan mereka bagian dari bangsa itu, padahal mungkin mereka belum tahu makna dari lirik lagu tersebut.
       
      “Indonesia raya….
        merdeka….merdeka…
        tanahku, negriku yang kucinta…”

                hatiku bergetar. Ada rasa malu yang tiba-tiba muncul. Mereka sekecil itu mampu dengan khidmad dan seolah-olah mengerti makna dari tiap lirik lagu Indonesia Raya, mereka sekecil itu mampu menunjukkan rasa bangganya pada negri ini, sedang aku? Apa yang aku bisa? Apa yang sudah aku persembahkan untuk ibu pertiwi?

                Hem aku malah menyibukkan diri dengan aksi-aksi mengkritik pemerintah dan elit politik, berkoar-koar mencaci tiap kebijakan para tikus berdasi yang gila jabatan, memperdebatkan kelakuan tak bermoral mereka…..celotehku penuh dengan itu tanpa menawarkan solusi untuk kemajuan bangsa. Ahh benar-benar tak solutif. Sepertinya para mahasiswa dan muslim negarawan perlu belajar banyak pada anak-anak BN sang mutiara bangsa ini….

        “Hiduplah Indonesia rayaaaaaa….”

Suara mereka sempurna membelah kabut yang makin tebal menyelimuti langit Buninagara….menuju telinga para petinggi negeri….membisikkan bahwa harapan itu masih ada, kelak Indonesia akan benar-benar merdeka dibawah pimpinan mereka, mutiara bangsa dari Buninagara.

$$$$$

     “Punten neng, Ramdannya ke impres (warga BN biasa menyebut sekolah itu impres), mau belajar cenna”  sahut akhi Ramdan lagi
        “Oh gitu ya pak, nuhun kalo gitu pak” teh vera menimpali
        “Biar akhi aja yang perbaiki”
        “Wah jangan pak,”
        “Iya, Bapak bantuin juga sini. Eneng-eneng balik ke rumah Bu Ratih saja” lelaki berwajah asing berusia tak muda lagi keluar dari balik pintu
        “Wah kita jadi ngrepotin gini” kataku sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya tak gatal

// jadi kita-kita para cewek-cewek tiap mandi selalu di rumah teh Ratih, belaiu adalah guru PNS dari kota, hampir 3 tahun mengabdi di BN, namun mau pindah karena sedang hamil ,5 bulan. Nah sejak kemarin teh Ratih dan guru-guru lainnya sedang ada rapat di kota, seusainya nanti rencana teh Ratih langsung izin pulang ke Kiara Condong untuk USG dan baru balik ke BN hari Selasa pagi. Nah selama kita di sana, kita diperbolehkan menghuni rumahnya, ah….baik banget sih J . Dan seakan kompak dengan aliran air di sekolah, aliran kamar mandi teh Ratihpun mendadak macet, ngambek tak mau mengalir tu air//

Tanpa dikomando dua orang lelaki itu menuju belakang perkampungan, kami berdua pun kompak mengikutinya dari belakang. Berjalan terus, terus dan terus….hingga hampir masuk hutan.
        
      “Tunggu sini saja neng”
        Kamipun mengangguk kompak.
        “Neng, napa atuh kok tidur di impres?” Tanya kakek tetangga Ramdan seusai memperbaiki aliran air rumah teh Ratih.
        “Belum dapat izin dari perkebunana pak”
        “Perkebunan mana perduli sama kita neng, udah tidur di rumah bapak aja, bapak cuma berdua kok sama emak”
        “Nuhun pak”

Setelah berpamitan dan tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih, kamipun melangkahkan kaki menuju rumah teh Ratih.

        “Orang sini baik-baik ya teh” celetukku
        “Iya dik, tadi aja ya pas aku ke warung, ada ibu-ibu yang nawarin tidur di rumahnya juga, padahal tau kalo kita ber-11. Subhanallah ya”
        “Kok masih ada ya teh orang-orang seperti itu, padahal mereka sama sekali nggak kenal kita sebelumnya”
        “Itulah kekuatan ukhuwah….pernah denger ikatan persaudaraan karena iman itu lebih erat dari pada ikatan persaudaraan ?”
        “Emang gitu teh?”
        Teh Vera hanya membalas dengan senyum simpulnya yang maniiiiiis J

        $$$$$

                Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran bersahut-sahutan menyeruak berbaur dengan dinginnya BN malam ini.  Seperti biasa sebelum tidur kami duduk mengelilingi lilin, meski tak begitu terang namun tak mengurangi kekhusyukan kita untuk bermesraan dengan Quran masing-masing mendendangkan kalam-Nya. Entah bagaimana awalnya meski tanpa jadwal dan persetujuan namun ini seperti telah menjadi tradisi ngumpul mengelilingi lilin untuk tilawah dan membaca Al-Ma’surat seusai sholat subuh, sholat magrib, dan sebelum tidur.

صُوصٌ مَّرْ بُنيَانٌ كَأَنَّهُم صَفًّا سَبِيلِهِ فِي يُقَاتِلُونَ الَّذِينَ يُحِبُّ اللَّهَ إِنَّ
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh

Subhanallah….aku pasti akan merindukan ini semua….berada dalam lingkaran ukhuwah Ilahi….menjadi bagian penyusunnya….bersama-sama memuji kalam-Nya. Luar biasa. Inilah aku, hamba Allah, saksikan….saksikan bahwa aku bangga menjadi seorang mujahidah muda, tentara Allah. Allahu Akbar!!!

        “Udah malem buruan tidur” teh Vera mendongakkan kepalanya “Mbak tidur dulu ya” lanjutnya lagi sambil menutup mushaf yang baru saja dibuatnya tilawah
        “Iya teh, bentar lagi” sahutku yang masih asyik dengan si mini-pinky, mushafku tersayang
                 
Entah mengapa rasanya aku enggan beranjak dari tempat dudukku. Setelah selesai tilawah, kututup perlahan mushafkuku. Seperti biasa mataku sibuk patroli menyusuri sekitar. Namun ada yang berbeda, bola mataku seakan lebih pekat menatap tiap jengkal objek di sekelilingku. Kupandangi satu per satu teteh-teteh yang tidur membujur diatas barisan bangku-bangku, wajah-wajah begitu lelah menyembul dibalik selimut-selimut tebal yang selalu setia memanjakan kami dari dinginnya BN.
               
 Ada rasa aneh yang bergelantung di dalam kalbu, dan mungkin itu yang membuat kakiku enggan beranjak tuk membiarkan mataku terus menjelajah pemandangan yang mungkin ini terakhir kalinya aku lihat.

Ya Robb….aku tau sebentar lagi akan ada kerinduan yang menyesak pada kalbu yang meronta.…
rindu pada mereka, sosok-sosok hebat yang mengajariku akan banyak hal,
kesabaran, keikhlasan, pengorbanan hingga nikmatnya berbagi….
rindu pada keterbatasan yang mempererat ukhuwah nan indah….

Kuseka aliran air dari sungai kecil di pipiku
        “Selamat tidur teteh-teteh, bidadari surga yang dikirim Allah special untuk menemani nafasku di BN” bisikku pelan sebelum membenamkan diri di dalam selimut tebal yang hendak menjagaku dari gigitan dinginnya malam

$$$$$

        “Assalamu’alaikum, kami mutiara bangsa akan menyanyikan lagu Garuda Pancasila. Satu…dua…tiga…” suara Ai melengking memenuhi sudut-sudut kelas tengah.
Kulirik sekeliling, adik-adik dan para undangan terlihat begitu antusias, terlebih teteh-teteh dan akang-akang team BN. Tiba-tiba tanganku dingin, tegang, rasa was-was muncul begitu saja, entah mengapa rasa khawatir akan kemungkinan-kemungkinan terburuk timbul tenggelam.
        “Tenang aja, mereka pasti bisa tampil dengan baik tanpa ada lirik yang terlupakan” tangan teh Vera menggenggam erat tanganku, heeem seenggaknya aku bisa sedikit tenang.
       
         “Garuda pancasilaaa….akulah pendukungmu” teriakan mereka mulai terdengar, sedikit bergetar, mungkin tegang

        “Patriot proklamasi setia berkorban untukmu”

Sepertinya adik-adik kelas nol mulai bersemangat, teriakannya makin kencang, bahkan Amang beberapa kali menggoyang-goyangkan tangan kanannya untuk memamerkan gelang dari rafianya

“Pancasila dasar Negara….rakyat adil, makmur, sentosaaa”

Teriakan makin kencang, kelas satu dan kelas dua tak mau kalah. Suara mereka benar-benar sempurna menyesaki ruang kelas ini sekarang. Ai, sang dirigen, makin centil mengayunkan tangannya meski dia sendiri hanya asal gerak tak mengerti apa itu dirigen dan makna gerakan tangannya.

“Pribadi bang-saku
ayo maju-maju…..
ayo maju-maju….
Ayo maju….majuuuuuu…..” semua tangan mereka bergoyang-goyang memperlihatkan gelang sederhana dari rafianya,

Sempurna. Semua yang ada di ruangan itu bertepuk tangan sambil menghadiahkan senyum puasnya. Plooooong. Batu besar yang dari tadi menghmpitku kabur bersama kicauan burung pagi ini.

                Penampilan kelas junior (nol-satu-dua) sempurna membuka acara penutupan Puding Road to School in Buninagara kali ini. Seakan tak mau kalah dirigen kelas middle (tiga-empat-lima), si Ipit, menyampaikan rasa terimakasihnya seusai menyanyikan lagu himne guru dengan bahasa Jepang, ‘arigatao gozaimashu’. Dan kelas senior, kelas enam, meski mereka hanya ber-enam namun mampu membuat kita terpana saat menyanyikan lagu ‘thank you Allah’.

$$$$$

        “Kita packing barang-barang pribadi yang urgen-ugen aja, malam ini kita tidur bawah, cowok di rumah pak Aep dan cewek di rumah teh Ratih. Tadi pak Aep nyuruh kita nginep karna malam terakhir di BN katanya.” Teh Eva member instruksi
“Asyik jamuan makan malam gratis ni kayaknya”
“Tahu-tempe goreng plus JENGKOOOOL” bisikku menahan senyum. Makanan sederhana yang lebih dari mantab rasanya 

$$$$$

“Kebetulan sekali ini bapak mau ada rapat untuk maulid nabi bersama para tokoh masyarakat, jadi adik-adik bisa gantiin bapak ngajar ngaji kan?”
Sesaat kami saling berpandangan, niat hanya ingin berjamaah sholat magrib lalu silaturahim ke pak Aep malah dapet rejeki nomplok.
“Iya pak” kak Bowo akhirnya menjawab

Lima menit kemudian tanpa dikomando kami telah membentuk beberapa kelompok, duduk melingkar masing-masing beranggotakan 4-5 orang. Dan indahnya gema lantunan ayat-ayat suci-Nya kembali menambah indah langit BN. Subhanallah, sepertinya malaikat ikut menjadi saksi bahwa sebentar lagi Indonesia akan bangkit di tangan mutiara bangsa yang tak hanya cerdas namun juga beriman.

$$$$$

“Alhamdulillah….mantab….kenyangnya euy! Kak Mpit emang jago dah dalam urusan masak-memasak” celetukku setelah menyendok mie instan terakhirku
“Hehee bisa aja”
“Kasihan Kak Bowo ya, besok kan dia puasa, mana nggak makan malam lagi tadi” teh Isma menyahut
“Biarin aja, udah malem pada tidur gi besok kan kita beres-beres dan perjalanan pulang….” timpal teh Eva
“Heeem dasar teteh….”
Tanpa diberi perintahpun sebenarnya kami sudah dapat dipastikan menempati tempat masing-masing untuk tidur termewah malam ini, di rumah teh Ratih gitu looooo…..meski rumahnya hanya dari papan, namun cukup mampu menawarkan sedikit rasa hangat dibanding selama ini ketika tidur di sekolah.

//jadi sesuai rencana berdasarkan undangan special pak Aep, kami semua tidur di bawah (di perkampungan). Namun yah memang terkadang kenyataan tak seindah angan, jadi pas seusai mengaji bersama adik-adik dan dilanjut sholat isya’ berjamaah, kami ke rumah pak Aep untuk memenuhi undangan, namun pemandangan indah yang kami harapkan tak juga muncul, hanya bala-bala dan teh made in  bu Aep yang menemani asyiknya obrolan kami malam itu….intinya mah kagak jadi dapet makan gratis hehee.
Beruntung para cewek tidur di rumah teh Ratih dan kami sempat membawa beberapa bungkus mie instan, kalau yang cowok….ya memang sudah takdir mereka lah hehee //

$$$$$

        “Itu mau dibuang teh?” dengan gamang Bombom menoleh ke arahku
        “Iya, udah kenyang semua dan mau dicuci pancinya”
        “Sini teh biar kita habisin aja”
Dengan ragu kuulurkan panci besar berisi nasi goring sisa sarapan bersama kami dengan anak-anak,

‘bukannya tadi Bombom makan banyak banget, pake nambah lagi….
trus sekarang mau dihabisin?
Nggak salah?’

                Sembari beres-beres kompor dan teman-temannya, mataku tak henti-hentinya melirik beberapa anak yang asyik mengerumuni panci berisikan nasi goring, benar-benar lahap mereka memakannya.
        “Teh, ini buat aku ya…” bocah yang tak asing lagi wajahnya memungut botol saos yang tinggal sedikit isinya di tas kresek sampah. Sementara aku tak mampu menjawab hanya mengangguk pelan.
        “Aku itu teh….” giliran si srikandi (hehee julukanku untuknya karna dia satu-satunya anak perempuan di kelas enam) menunjuk botol kecap.
        “Ok, ambil saja yang kalian mau”
        “Yeeeeee…..nuhun teteeeeeh”
        “Ini apa teh?”
        “Susu teteh, mau? Tapi tinggal separuh”
        Kulihat anggukan mantab  Ramdan, “Ambil aja” kataku sambil mengelus kepalanya.

Ya Allah, apa yang telah ku perbuat hingga ku enggan untuk sekedar mengucap syukur atas semua nikmat-Mu?
Lidahku seolah hanya terampil mengeluh atas apa yang tak ku punya
Mataku liar menatap tajam pada apa yang ku ingin miliki
Pita suaraku bergetar memelas memohon dikabulkan keinginanku ini dan itu hingga berlebihan
Padahal…..
Kau beri aku segala fasilitas tanpa pernah ku harus terlebih dulu memintanya
Kau kenalkan aku pada hal-hal yang tak pernah ku fikirkan sebelumnya

                Kepalaku hanya menunduk, takut jika ada yang tau bahwa mataku sudah mulai berkaca-kaca.
$$$$$

                Mendung siang ini sempurna memayungi hamparan bumi hijau perkebunan teh BN, sinar sang surya menerobos melalui sela-sela tebalnya si abu-abu. Benar-benar anggun.
                Deruman angkot makin kencang terasa setelah sepersekian jam kemudian giliran anak hujan menari lincah, menemani perjalanan kami pulang meninggalkan BN. Meninggalkan BN? Heeem….mungkin lebih tepatnya sedikit menjauh, menuntaskan amanah lain yang butuh segera diselesaikan juga. Mencari, menyusuri dan singgah sejenak untuk menyapa tempat-tempat lain yang juga membutuhkan hangatnya pelukan keperdulian kami. Kami? Heeem….bukan kami tapi kita, aku dan kau….mau kan berjuang denganku, mencoba ikut menggerakkan pena berisikan tinta kebangkitan Indonesia?
Percayalah meski kecil dan tak seberapa namun itu sangat berarti.
Kau tau kenapa?
Karna…
Kebahagiaan saat kita memberi dengan keikhlasan  
melebihi
Kebahagiaan saat kita menerima dengan ketulusan

Bandung, 15 Februari 2012
Untukmu, mutiara bangsaku dari Buninagara
 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar